KUIK SELENGGARAKAN PELATIHAN PENGAJARAN BIPA 2016

Selasa, 24 Mei 2016 dilaksanakan pembukaan sekaligus pelatihan hari pertama pengajaran BIPA tingkat dasar dan madya di Universitas Negeri Yogyakarta. Pelatihan BIPA ini akan dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 24 hingga 26 Mei dan diikuti oleh 28 peserta tingkat dasar dan 19 orang tingkat madya. Yang menarik adalah latar belakang peserta yang tidak hanya berasal dari bahasa indonesia dan bahasa Inggris, tetapi juga pengajar dari prodi Akuntansi, Bahasa Rusia,  Jerman, dan Perancis.

Dibuka oleh Dr.-Ing Satoto E Nayono, M.Eng, M.Sc., selaku kepala Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan sekaligus pemateri pertama, beliau mengibaratkan pengajaran BIPA seperti sri gunung, sesuatu itu nampak indah seperti gunung jika dipandang dari kejauhan. Namun jika didekati akan nampak bopeng dan permukaan yang tidak rata. Ada bongkahan batu, reruntuhan kubah lava, gersang, panas, dan sebagainya tetapi bila sudah di puncak dapat melihat pemandangan yang luar biasa.

Sedangkan, Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. dalam materi yang kedua “pengajaran BIPA: Sejarah, Visi, Misi, dan Tujuan & Prinsip dan Metode Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing” menuturkan bahwa pelatihan BIPA harus sensitif, peserta diharapkan menjadi instruktur BIPA yang terlatih mendengarkan suara/pendapat muridnya. Tidak lupa beliau juga mengingatkan bahwa pengajaran BIPA harus menjadi komparatif budaya dimana tidak hanya kita yang memberi tapi dari interaksi dengan mahasiswa asing memungkinkan untuk belajar budaya bersama. “Jangan lupa mengenalkan gestures/bahasa isyarat” tambah beliau.

“Bahasa Indonesia tidak boleh berhenti” tegas Dr. Liliana Muliastuti.  Pemateri ketiga yang juga merupakan ketua APPBIPA pusat tersebut mengungkapkan bahwa di Rembuk Nasional dan Kebudayaan 2016, pak Anies Baswedan berpesan gerakan pengajar bipa saat ini agar menjadi gerakan nasional dan kedepannya mungkin akan ada sertifikasi, ppg, dan S2 pengajar BIPA.

Dalam sesi tanya jawab, dua peserta dari Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon menanyakan beberapa hal terkait sejarah munculnya BIPA, kebijakan pemerintah mengenai program BIPA, dan panduan untuk mengirimkan alumni menjadi pengejar BIPA.

Menanggapi hal ini, Ibu Liliana menjawab,”Belum ada buku sejarah BIPA dan ini merupakan saran yang bagus bagi APPBIPA”. Beliau juga memaparkan bahwa kebijakan BIPA memang baru dihidupkan di tahun ini dan untuk pengajar BIPA sendiri dapat dirintis dengan mengembangkan mata kuliah pilihan BIPA, diperkuat dengan praktik mengajar mahasiswa asing.

Dalam sesi kedua, menjawab pertanyaan peserta, Dr. Liliana Muliastuti menjelaskan bahwa bagi pengajar yang bukan berasal dari jurusan Bahasa Indonesia dan mengikuti program sertifikasi adalah dengan menggunakan portofolio. Mengenai standarisasi untuk pelevelan kelas BIPA, beliau menjelaskan bahwa belum ada standar dari badan bahasa tetapi belajar dari pengalaman selama ini pengajar BIPA dapat membuat placement test sendiri.
“Strategi politik atau bisnis yang dikaitkan dengan bahasa, bagaimana implementasinya? dan terkait kebijakan BIPA, buku, dan pelevelan kelas seperti yang ditanyakan peserta lain mungkin saran kedepannya perlu dipercepat ke arah standarisasi.”, ungkap Ida Bagus Artha Adnyana, peserta dari Politeknik Negeri Bali.

Ibu Liliana mengamini proses standarisasi tersebut. “Bahasa kita internasionalisasikan namun kita lindungi negara kita dengan regulasi yang jelas agar orang asing menghormati Indonesia” tutupnya. (Tiara)